Akademisi ingatkan penanganan kasus MBG perlu diikuti perbaikan
Automatic translation. This article was translated from Indonesian. Names, institutions and figures are kept in their original form. For the authoritative version, read the report at the original source.
Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Ilmu Politik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Cecep Darmawan mengingatkan penanganan kasus dugaan keracunan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu diikuti langkah konkret berupa perbaikan apabila ditemukan adanya kelemahan atau kelalaian.
“Jika ditemukan adanya kelemahan atau kelalaian, harus ada koreksi yang jelas. Jika ditemukan bahwa persoalannya berada pada aspek tertentu, aspek tersebut harus diperbaiki,” kata Cecep dikutip di Jakarta, Rabu.
Ia menambahkan bahwa keterbukaan dalam mengakui persoalan, mencari penyebab, bertanggung jawab terhadap dampak, serta memperbaiki sistem merupakan bagian penting dalam membangun kembali kepercayaan masyarakat.
akat,” kata Cecep.
Pada kesempatan itu, dia menyoroti kehadiran Wakil Presiden Gibran Rakabuming di Batang serta permintaan maaf yang disampaikannya kepada korban dan keluarga. Menurut Cecep, langkah itu merupakan bentuk tanggung jawab dan empati pemimpin.
“Saya melihat langkah tersebut sebagai bentuk tanggung jawab dan empati,” kata Cecep.
Meskipun begitu, ia mengingatkan agar respons itu dilanjutkan dengan investigasi yang objektif dan berbasis bukti untuk mengetahui persoalan secara jelas.
“Transparansi juga bukan berarti pemerintah harus tergesa-gesa membuat kesimpulan. Justru transparansi berarti proses investigasi dilakukan secara objektif, berbasis bukti, dan hasilnya disampaikan secara terbuka setelah fakta-faktanya cukup,” ujarnya.
Ia mengatakan hasil investigasi harus menjadi dasar untuk menentukan langkah perbaikan apabila ditemukan kelemahan dalam pelaksanaan program.
seluruh korban mendapatkan penanganan medis hingga pulih serta tidak terbebani biaya pengobatan.
Wapres Gibran meninjau kondisi para pasien yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Limpung dan Puskesmas Bawang, Kabupaten Batang, pada Senin (28/9).
"Prioritas pertama adalah kesehatan korban. Pasien yang masih dirawat harus mendapat pelayanan sampai pulih, sementara warga yang sudah pulang, tetapi keluhannya kembali muncul harus tetap mudah mengakses pemeriksaan lanjutan," kata Wapres.
Di RSUD Limpung, Gibran berdialog dengan salah satu pasien anak, Arsenio, yang telah menjalani perawatan selama empat hari.
Pewarta: Tri Meilani Ameliya Editor: Endang Sukarelawati Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/akademisi-ingatkan-penanganan-kasus-mbg-perlu-diikuti-perbaikan-53018c61/.
Related
Kemenag salurkan Rp65,2 miliar untuk pemulihan pesantren di Aceh
Bantuan itu untuk menjaga keberlangsungan kegiatan pembelajaran dan layanan pendidikan bagi santri serta peserta didik di wilayah terdampak.
MPR Dorong Pendidikan Pancasila Diperkuat dalam Revisi UU Sisdiknas
Ketua Fraksi Partai Golkar (FPG) MPR RI Melchias Markus Mekeng mendorong penguatan pendidikan Pancasila dalam sistem pendidikan nasional. Mekeng menilai Pancasila tidak hanya berkedudukan sebagai dasar negara, tetapi juga merupakan falsafah bangsa yang menjadi landasan dalam…
Anak bukan jalan mencari nafkah
Surabaya (ANTARA) - Lampu jalan menyala ketika sebagian anak lain telah berada di rumah, menyiapkan buku untuk esok hari atau bersiap tidur. Di sudut kota, ada anak yang masih mengikuti orang tuanya mengamen, mengemis, atau sekadar menunggu hasil dari aktivitas yang dilakukan di…
VIDEO: Ratusan Dokter PPDS Diduga Keracunan Nasi Kotak
VIDEO: Ratusan Dokter PPDS Diduga Keracunan Nasi Kotak CNN Indonesia TV | CNN Indonesia Rabu, 30 Sep 2026 07:00 WIB Jakarta, CNN Indonesia -- Ratusan peserta Pra Pendidikan Program Pendidikan Dokter Spesialis atau PPDS, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, diduga keracunan…