Lewati ke konten

Rabu, 7 Oktober 20262728 berita

Bisnis Berusia Seabad di Jepang BerguguranThe Future Fest 2026 perluas akses pendidikan tinggiFictor Roring nilai jumlah laga IBL All Indonesian harus lebih banyakMarc Marquez: Tolong Doakan Saya Finis di MotoGP Mandalika 2026Menteri PKP pastikan program bedah rumah di Bandung tepat sasaranEgy Maulana Vikri bersyukur akhirnya bisa antar Timnas Indonesia juaraRelawan Gibran Sujud Syukur Usai MK Tak Terima Gugatan Denny Indrayana DkkKejagung siapkan 34 JPU untuk sidang perdana Febrie AdriansyahMK putuskan gugatan terhadap ijazah Wapres Gibran tidak diterimaClaresta Taufan sebut tema film "Bapak Paling Jujur" bikin deg-degan
Ekonomi

Bisnis Berusia Seabad di Jepang Berguguran

Liputan6 Bisnis 2 menit baca 451 kata
Bisnis Berusia Seabad di Jepang Berguguran — gambar dari Liputan6 Bisnis
Gambar dari Liputan6 Bisnis. Ringkasan oleh Zona News.

Liputan6.com, Jakarta - Bisnis Jepang yang telah berdiri lebih dari seratus tahun kini menghadapi gelombang kebangkrutan dengan laju rekor. Salah satunya Kadoya Sesame Mills, produsen minyak wijen sejak 1858.

Kadoya akan delisting atau menghapuskan saham dari bursa saham lewat tender offer yang didukung firma ekuitas swasta Integral, setelah lebih dari dua dekade tercatat di Jasdaq Securities Exchange sejak 2004, seiring naiknya biaya bahan baku dan risiko geopolitik.

"Perusahaan berusia satu abad di Jepang makin khawatir tidak bisa memperkirakan masa depan dengan laba tinggi yang berkelanjutan dalam jangka panjang, dan takut akan perlahan-lahan mengalami kemunduran," kata Kepala Ekonomi Jepang di Oxford Economics, Shigeto Nagai, dikutip dari CNBC, Selasa (6/10/2026).

Bisnis Jepang yang sudah lama berdiri tengah diuji berbagai faktor, mulai dari pasar domestik yang menyusut dan kekurangan tenaga kerja hingga tantangan suksesi, menurut sejumlah pakar.

Kebangkrutan bisnis Jepang dengan sejarah lebih dari 100 tahun mencapai 112 kasus dalam delapan bulan pertama 2026, tertinggi sepanjang catatan menurut Teikoku Databank.

Nagai menyebut, perusahaan berusia satu abad di Jepang sebelumnya mampu mencapai kemakmuran jangka panjang lewat kepemilikan keluarga, akar kuat di komunitas lokal, serta pendekatan bisnis yang tetap sesuai kemampuan. Sejarah panjang dan akumulasi modal bertahun-tahun juga membuat mereka memiliki neraca keuangan yang sehat.

Sementara, kenaikan biaya dan kekurangan tenaga kerja menjadi tantangan utama bagi perusahaan Jepang dalam lingkungan bisnis setelah pandemi, menurut ekonom utama S&P Global Market Intelligence, Harumi Taguchi.

Biaya Naik, Pasar Domestik Menyusut Taguchi mengatakan, meski inflasi membuat perusahaan lebih mudah meneruskan biaya dibandingkan ketika deflasi, banyak yang masih belum bisa sepenuhnya mencerminkan kenaikan pengeluaran ke dalam harga jual. Kondisi ini sangat sulit diserap perusahaan kecil yang berfokus domestik.

Kebangkrutan terkait kenaikan harga melonjak 23,8% menjadi 556 kasus pada semester pertama 2026. Sementara itu, kebangkrutan akibat kekurangan tenaga kerja naik 12,4% menjadi 227 kasus.

Salah satu contohnya Sube Shoten, produsen tahu sejak 1877, yang menghentikan operasinya Mei lalu dan bersiap mengajukan kebangkrutan akibat margin laba rendah dan lonjakan biaya bahan baku.

Tantangan besar lain yang dihadapi perusahaan Jepang adalah persaingan domestik yang makin intens, diperparah angka kelahiran yang menurun dan populasi yang menua.

Masalah Suksesi Jadi Momok Baru Suksesi kepemimpinan menjadi tantangan lain bagi bisnis keluarga di Jepang. Kebangkrutan terkait minimnya penerus naik 16,9% menjadi 312 kasus pada semester pertama 2026 dibandingkan tahun sebelumnya.

"Kombinasi faktor-faktor itulah, bukan satu isu tunggal, yang membentuk keputusan ini," kata Direktur Pelaksana sekaligus Kepala Praktik Global Transaction Advisory Group di Alvarez & Marsal, Paul Aversano.

Ia menyebut pelemahan yen, reformasi tata kelola korporasi, tekanan dari investor aktivis, serta tantangan suksesi di bisnis milik pendiri, mendorong pemilik dan dewan direksi meninjau ulang opsi mereka. Faktor-faktor ini bersamaan dengan inflasi, tarif, biaya tenaga kerja, dan suku bunga yang terus meningkat.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/bisnis-berusia-seabad-di-jepang-berguguran-5ad10db0/.

Baca juga

VIDEO: Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 490 Gram Sabu

VIDEO: Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 490 Gram Sabu CNN Indonesia TV | CNN Indonesia Selasa, 06 Okt 2026 23:30 WIB Jakarta, CNN Indonesia -- Penumpang pesawat rute Batam - Jakarta diamankan petugas Bea Cukai, lantaran menyelundupkan sabu-sabu cair.

CNN Indonesia

Semua berita Ekonomi