Lewati ke konten

Kamis, 1 Oktober 2026258 berita

Kronologi Skandal Manchester City hingga Peran Pangeran ArabPemkot Palu hadirkan 24 perusahaan dalam Job Fair 2026Empat korban KM Virgo Transport 8 kembali ditemukan di KaltengJasa Raharja bayarkan santunan Rp3,02 miliar korban Kapal VirgoKejati Bali tetapkan tersangka dugaan korupsi rugikan ASABRI Rp100 MIndro terkejut generasi Z masih hafal lagu-lagu WarkopSetahun Sekolah Rakyat di Makassar, siswa makin mandiriReality Club dan Phum Viphurit akan tampil di Synchronize Fest 2026Aceh Barat percepat realisasi TKD Rp68 miliar untuk pemulihanApindo: RUU Ketenagakerjaan harus seimbang antara pekerja dan industri
Olahraga

Kronologi Skandal Manchester City hingga Peran Pangeran Arab

CNBC Indonesia 6 menit baca 1188 kata
Kronologi Skandal Manchester City hingga Peran Pangeran Arab — gambar dari CNBC Indonesia
Gambar dari CNBC Indonesia. Ringkasan oleh Zona News.

Kronologi Skandal Manchester City hingga Peran Pangeran Arab Jakarta, CNBC Indonesia - Manchester City dinyatakan bersalah atas seluruh tuduhan pelanggaran aturan keuangan Premier League. Dalam putusan inti setebal 40 halaman yang baru dipublikasikan, komisi independen menemukan sejumlah skema pendanaan yang disebut sebagai transaksi "palsu" atau sham, termasuk kesepakatan sponsor bernilai besar dari perusahaan-perusahaan Abu Dhabi.

Mengutip laporan The Guardian, Rabu (30/9/2026) putusan tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana City membiayai ambisi besar klub setelah dibeli anggota keluarga kerajaan Abu Dhabi, Sheikh Mansour bin Zayed al-Nahyan, pada 2008.

Saat mengambil alih City, Mansour memiliki "rencana ambisius" untuk mengembangkan klub. Namun, kondisi keuangan saat itu dinilai belum mampu menopang target tersebut.

"Klub menyadari sejak awal kepemilikan [Mansour] bahwa dana yang sangat besar akan dibutuhkan jika langkah-langkah yang diperlukan untuk mewujudkan ... ambisi tersebut ingin dipenuhi," tulis komisi.

Pada awalnya, kebutuhan dana tambahan dipenuhi melalui suntikan modal dari Mansour atau yang disebut sebagai owner equity. Namun, model tersebut kemudian dinilai tidak bisa terus dipertahankan.

Komisi menyatakan "Klub menyadari bahwa [hal ini] bukanlah model yang berkelanjutan", dan karena modal pemilik tidak diperhitungkan dalam aturan financial fair play, City "perlu mengembangkan operasi komersialnya".

Salah satu jalan yang dipilih adalah "mencari kesepakatan sponsor bernilai tinggi di Uni Emirat Arab secara umum dan di Abu Dhabi secara khusus".

Dari sinilah muncul skema yang oleh komisi disebut sebagai "Disguised Funding Scheme" (DFS) atau skema pendanaan terselubung.

Nilai sponsor konvensional dinilai tidak akan cukup untuk memenuhi ambisi City sekaligus mencegah klub mengalami kerugian finansial. Karena itu, klub menggunakan mekanisme berbeda.

"Klub akan membuat perjanjian sponsor dengan sponsor-sponsor Abu Dhabi yang mencantumkan [biaya] substansial jauh di atas nilai pasar yang wajar. Namun, sponsor tidak berkewajiban membayar biaya sponsor yang tercatat tersebut, dan tidak akan melakukannya," kata penjelasan komisi tersebut.

Sponsor hanya membayar sebagian kecil dari nilai yang tercantum. Komisi menyebutnya sebagai "base sum" atau pembayaran dasar.

Sementara itu, sisa nilai kontrak, yang disebut "tagged sum", dibayarkan oleh Mansour atau setidaknya perusahaan yang dibentuk untuk mengendalikan City, Abu Dhabi United Group (ADUG).

Menurut komisi, DFS memungkinkan City melaporkan bahwa "pendapatan komersialnya dari perjanjian sponsor Abu Dhabi (dan dengan demikian pendapatannya secara umum) jauh, jauh lebih besar daripada kenyataannya".

Skema itu juga memungkinkan klub "menyembunyikan dari pihak ketiga besarnya kontribusi modal yang sebenarnya diberikan ADUG kepada klub".

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/kronologi-skandal-manchester-city-hingga-peran-pangeran-arab-520c68b8/.

Baca juga

Kejutan Cape Verde Sudah Habis?

Cape Verde sempat beri kejutan di Piala Dunia 2026. Namun selepasnya, Cape Verde lagi kalah melulu. Cape Verde mengarungi Kualifikasi Piala Afrika 2027 di jeda internasional kali ini. Mereka masuk Grup K.

Detik Sport

Semua berita Olahraga