Lewati ke konten

Rabu, 7 Oktober 20262927 berita

Remaja Putri Bisa Kekurangan Zat Besi meski Terlihat SehatAlarm Kematian El Nino di RI, Benarkah Belasan Ribu Terancam Tewas?Mediasi Audi Marissa dan Anthony Xie Resmi Gagal, Kuasa Hukum: Pintu Rujuk Masih TerbukaRUU Pelindungan Ketenagakerjaan Atur Dana Cadangan Pesangon hingga Larangan Tahan IjazahDulu Buka Jalan Cawapres, Almas Kini Minta DPR Proses Makzulkan GibranCristiano Ronaldo Ungkap Alasan Tinggalkan Timnas Portugal, Klaim Jorge Jesus Ingkar JanjiSegini Hadiah Timnas Indonesia Usai Kalahkan Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026Menko Sugino minta Menpora hitung kebutuhan tambahan bonus bagi atletMasalah Kualitas, As Roda Chery Omoda 5 Copot Terjadi di MalaysiaHaji Isam Tambah Kepemilikan Saham Bayan, Manajemen Buka Suara
Lifestyle

Remaja Putri Bisa Kekurangan Zat Besi meski Terlihat Sehat

Liputan6 Kesehatan 2 menit baca 356 kata
Remaja Putri Bisa Kekurangan Zat Besi meski Terlihat Sehat — gambar dari Liputan6 Kesehatan
Gambar dari Liputan6 Kesehatan. Ringkasan oleh Zona News.

Liputan6.com, Jakarta - Skrining defisiensi besi pada remaja putri perlu dilakukan setelah menstruasi. Menurut rekomendasi terbaru American Academy of Pediatrics (AAP) skrining bisa dilakukan setahun menstruasi pertama atau maksimal pada usia 14.

Pemeriksaan yang direkomendasikan mencakup pemeriksaan kadar Hb serta pemeriksaan serum feritin untuk mengetahui status cadangan zat besi seperti disampaikan Unit Kerja Koordinasi Hematologi Onkologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof. Dr. dr. Murti Andriastuti, SpA, Subsp.H.Onk.(K).

Murti mengatakan menyampaikan bahwa upaya pencegahan dan deteksi dini dapat membantu menekan kejadian defisiensi besi pada remaja putri. Remaja putri bisa terlihat sehat dan aktif meskipun cadangan zat besi dalam tubuhnya menurun.

Jika tidak ditangani, kekurangan zat besi di antaranya bisa menyebabkan anemia defisiensi besi parah, masalah perkembangan kognitif dan fisik pada remaja, serta penurunan kekebalan tubuh.

Selain itu, defisiensi besi pada remaja putri bisa berlanjut sampai usia dewasa serta menimbulkan risiko kesehatan pada masa kehamilan dan mempengaruhi kesehatan anak yang dilahirkan.

"Remaja putri itu selain dia juga mengalami kecepatan tumbuh, juga ada faktor menstruasi, yang nanti kita harus nilai, harus evaluasi. Kalau terlalu banyak atau terlalu lama, itu lama-kelamaan juga akan menjadi penyakit defisiensi besi," katanya dalam seminar daring IDAI.

Bila memang ada defisiensi besi bisa dilakukan terapi sehingga kadarnya bisa normal. Hal ini juga bisa mencegah masalah-masalah akibat kekurangan zat besi, yang bisa berlanjut sampai remaja mencapai usia dewasa dan hamil.

"Kalau ibu hamil defisiensi besi itu juga akan berpengaruh pada bayinya, berpengaruh pada proses kelahirannya," katanya.

Upaya pencegahan defisiensi zat besi, menurut dia, perlu dilakukan secara berkesinambungan mulai dari masa remaja, masa kehamilan, sampai periode awal kehidupan anaknya.

"Kalau kita tarik ke belakang sebelum kita hanya bekerja untuk bayi, tetapi harusnya dari mulai remaja putri kita sudah persiapkan, karena dia tidak boleh mengalami defisiensi besi," katanya mengutip Antara.

Tentang Kekurangan Zat Besi Menurut Kementerian Kesehatan, kekurangan zat besi adalah kondisi yang terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup zat besi untuk memproduksi hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang mengikat dan mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.

Gejala defisiensi besi bisa berupa kelelahan dan kelemahan, kulit dan bagian bawah mata tampak pucat, denyut jantung cepat atau tidak teratur, kesulitan berkonsentrasi, nyeri kepala, rambut rontok, dan kuku rapuh.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/remaja-putri-bisa-kekurangan-zat-besi-meski-terlihat-sehat-7dcfd82b/.

Baca juga

Semua berita Lifestyle