Skip to content

Thursday, 1 October 2026727 stories

Sering Mengorok Saat Tidur, Orang Obesitas Perlu Waspadai AritmiaIni Pesan-pesan Sugiono ke Menlu Baru RI Arrmanatha NasirKabur dari Pelatnas Timnas Portugal, Cristiano Ronaldo Terancam Sanksi Berat!Rupiah Lunglai ke Rp17.966 per Dolar AS Kamis SoreRamai Sorak Sorai, Menkeu Suahasil dan PNS Kemenkeu Sambut 2 Wamen BaruTablet Premium Terbaru Samsung, Galaxy Tab S12 Mulai Rp 21 JutaProfil Irwan Meilano, Guru Besar ITB yang kini jadi Wamen KPCerita Suyudi Pagi Hari Diminta Bersiap, Sore Jadi Kapolri64 mobil siap bersaing dalam kompetisi KMHE 2026 di UnejJenderal Sigit Tegaskan Masih Aktif di Polri Meski Tak Lagi Jabat Kapolri
Lifestyle

Sering Mengorok Saat Tidur, Orang Obesitas Perlu Waspadai Aritmia

Liputan6 Kesehatan 2 min read 312 kata
Sering Mengorok Saat Tidur, Orang Obesitas Perlu Waspadai Aritmia — gambar dari Liputan6 Kesehatan
Image from Liputan6 Kesehatan. Summarised by Zona News.

Automatic translation. This article was translated from Indonesian. Names, institutions and figures are kept in their original form. For the authoritative version, read the report at the original source.

Liputan6.com, Jakarta - Orang obesitas yang mengorok saat tidur perlu menjalani pemeriksaan irama jantung. Menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan aritmia, Rizky Aulia Fanani banyak pasien obesitas terkait atrial fibrilasi yang mengorok.

“Jadi, mengorok ini yang sangat-sangat under-diagnosed, yang sangat jauh dari terapi, bahwa pasien-pasien yang obesitas dan terkait dengan fibrilasi atrial atau AF, itu banyak yang mengorok,” kata Rizky.

Mengorok terlebih jika kondisi tersebut disertai OSA yang ditandai dengan berhentinya napas selama beberapa detik ketika tidur. OSA juga dapat menjadi salah satu faktor risiko tersembunyi pada pasien dengan fibrilasi atrium.

Kondisi tersebut dapat berulang selama seseorang tidur. Menurut dia, ketika tubuh kekurangan oksigen, dapat terjadi inflamasi atau peradangan yang dalam jangka panjang dapat mempercepat terbentuknya aterosklerosis atau peradangan pada dinding pembuluh darah sehingga mempermudah terjadinya fibrilasi atrium.

“Jadi, mengorok ini harus diintervensi. Diintervensi bisa dengan konsultasi dengan dokter,” ujarnya seperti mengutip Antara.

Rizky mengatakan penanganan mengorok dapat dilakukan berdasarkan penyebabnya. Jika penyebabnya berkaitan dengan lemak darah, hal tersebut perlu ditangani, sementara jika terdapat alergi, kondisi tersebut dapat dikonsultasikan dengan dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT).

Ia juga mengatakan gangguan irama jantung atau aritmia dapat muncul pada orang yang pembuluh darah koronernya normal. Dengan demikian, kualitas dan kecukupan tidur perlu diperhatikan.

“Tidurnya harus berkualitas, harus cukup, dan pastikan selama tidurnya yang cukup tadi, jumlahnya cukup, kualitasnya baik, harus ada screening mengorok,” ujar Rizky.

Menurut dia, pemeriksaan awal terkait kebiasaan mengorok dapat dilakukan dengan menanyakan kepada pasangan atau orang yang menjadi teman tidur.

Selain itu, teknologi seperti jam pintar (smartwatch) juga dapat digunakan untuk mendeteksi kualitas tidur dan melihat adanya episode kehilangan atau gangguan selama tidur.

Terkait obesitas, Rizky mengatakan penurunan obesitas dan pengendalian resistensi insulin dapat membantu mengontrol aritmia. Namun, ia menekankan bahwa aritmia memiliki banyak jenis.

Ia menyebut orang dengan obesitas, seperti obesitas morbid, memiliki risiko fibrilasi atrium yang lebih tinggi. Penyakit ini dapat ditangani dengan tindakan ablasi.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/sering-mengorok-saat-tidur-orang-obesitas-perlu-waspadai-aritmia-ab9f6158/.

Related

Semua berita Lifestyle