Lewati ke konten

Rabu, 7 Oktober 20262728 berita

Anak Belanda Disebut Paling Bahagia, Ini Rahasia Pola AsuhnyaThe Future Fest 2026 perluas akses pendidikan tinggiFictor Roring nilai jumlah laga IBL All Indonesian harus lebih banyakMarc Marquez: Tolong Doakan Saya Finis di MotoGP Mandalika 2026Menteri PKP pastikan program bedah rumah di Bandung tepat sasaranEgy Maulana Vikri bersyukur akhirnya bisa antar Timnas Indonesia juaraRelawan Gibran Sujud Syukur Usai MK Tak Terima Gugatan Denny Indrayana DkkKejagung siapkan 34 JPU untuk sidang perdana Febrie AdriansyahMK putuskan gugatan terhadap ijazah Wapres Gibran tidak diterimaClaresta Taufan sebut tema film "Bapak Paling Jujur" bikin deg-degan
Lifestyle

Anak Belanda Disebut Paling Bahagia, Ini Rahasia Pola Asuhnya

Liputan6 Kesehatan 3 menit baca 588 kata
Anak Belanda Disebut Paling Bahagia, Ini Rahasia Pola Asuhnya — gambar dari Liputan6 Kesehatan
Gambar dari Liputan6 Kesehatan. Ringkasan oleh Zona News.

Liputan6.com, Jakarta - Anak Belanda secara konsisten disebut sebagai salah satu anak paling bahagia di dunia. Di balik hal tersebut, ada pola asuh yang memberikan ruang bagi anak untuk mandiri, merasa didengar, sekaligus tetap memiliki hubungan yang dekat dengan keluarga.

Sebagai psikolog anak dan sekolah yang bekerja dengan keluarga di Belanda, Veronique van der Kleij mengamati berbagai gaya pengasuhan dari banyak budaya. Menurutnya, setiap pendekatan memiliki kelebihan, tetapi ada sejumlah kebiasaan yang membuat pola asuh orangtua Belanda menarik untuk diperhatikan.

Berdasarkan penelitian dan pengalamannya membesarkan dua putri, Van der Kleij mengungkap enam hal yang tidak pernah dilakukan orangtua Belanda.

Mendorong Anak Mandiri Sejak Dini Dikutip cnbc pada Selasa, 6 Oktober 2026, salah satu kebiasaan yang mudah ditemui adalah budaya bersepeda. Orangtua tidak selalu mengantar anak menggunakan mobil ketika perjalanan bisa ditempuh dengan sepeda.

Kebiasaan ini bahkan dimulai ketika anak masih bayi. Begitu sudah bisa duduk, bayi dapat ditempatkan di bagian depan sepeda orangtua dan diajak berkeliling dalam berbagai kondisi cuaca.

Seiring bertambahnya usia, anak perlahan diberi kepercayaan untuk bersepeda sendiri ke sekolah atau ke rumah teman. Kebebasan dan kepercayaan ini membantu anak berkembang menjadi pribadi yang mandiri, mampu mengurus diri sendiri, dan percaya diri.

"Bersepeda di tengah badai mengajarkan anak bahwa apa pun rintangan yang mereka hadapi dalam hidup, mereka akan mampu melewatinya," kata Kleij.

Tidak Terlalu Mengawasi Anak Orangtua Belanda juga tidak terbiasa terus-menerus mengawasi anak saat bermain. Anak diberi ruang untuk mengeksplorasi lingkungan, mencoba berbagai hal, hingga belajar bangkit ketika terjatuh.

Di taman bermain, misalnya, orangtua dapat duduk di bangku sambil mengobrol sementara anak-anak bermain, berlari, memanjat, dan sesekali terjatuh.

Sejak dini, anak didorong untuk percaya pada kemampuan diri sendiri dan belajar menghadapi berbagai situasi tanpa selalu bergantung pada orangtua.

Mengutamakan Waktu Bersama Keluarga Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi juga menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarga di Belanda. Masyarakat Belanda dinilai sangat menghargai work-life balance.

Orangtua, termasuk ayah, menyediakan waktu khusus untuk bersama anak. Waktu tersebut dapat digunakan untuk bermain, mengikuti olahraga, bergabung dalam klub, atau sekadar bersantai bersama keluarga.

Makan bersama setidaknya satu kali sehari juga menjadi kebiasaan. Momen tersebut digunakan anggota keluarga untuk terhubung dan membicarakan aktivitas mereka sepanjang hari.

"Merasa terhubung dapat meningkatkan kesehatan mental seluruh anggota keluarga dan berkontribusi pada anak yang lebih bahagia serta seimbang secara emosional," kata Kleij.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/anak-belanda-disebut-paling-bahagia-ini-rahasia-pola-asuhnya-ca2b0967/.

Baca juga

Semua berita Lifestyle