Lewati ke konten

Jumat, 2 Oktober 2026964 berita

Bukan Cuma Lansia, Bayi Baru Lahir Bisa KatarakPolisi Selidiki Wanita Dianiaya Usai Dituduh Curi Amplop Hajatan di JakselVIDEO: Polisi Bongkar Laboratorium Rahasia Produksi Vape EtomidateThailand Cabut Kewarganegaraan Pengusaha Israel, Ini AlasannyaRusia tegaskan akan merespons atas ancaman terhadap KaliningradTempat Taco di Jakarta yang Sering Direkomendasikan, Bisa Dipesan di GrabFoodKepala BGN minta pemda kontribusi sidak SPPG pastikan keamanan panganPihak Richard Lee Soroti Alokasi Waktu Sidang, Tuntut Kesetaraan Hak Pembelaan di Depan HakimBupati Gowa Tak Ditahan Usai Diperiksa Kortas Tipikor PolriSertijab Kapolri dari Listyo ke Suyudi Digelar Sore Ini
Lifestyle

Bukan Cuma Lansia, Bayi Baru Lahir Bisa Katarak

Liputan6 Kesehatan 3 menit baca 517 kata
Bukan Cuma Lansia, Bayi Baru Lahir Bisa Katarak — gambar dari Liputan6 Kesehatan
Gambar dari Liputan6 Kesehatan. Ringkasan oleh Zona News.

Liputan6.com, Jakarta - Katarak kerap dikaitkan dengan proses penuaan yang menyebabkan lensa mata menjadi keruh. Namun, kondisi ini juga dapat dialami bayi sejak lahir maupun anak-anak.

Katarak yang muncul sejak lahir dikenal sebagai katarak kongenital. Meski relatif jarang ditemukan, katarak ini perlu mendapat perhatian khusus karena dapat mengganggu perkembangan penglihatan anak. Pemeriksaan dan penanganan medis sejak dini diperlukan untuk menentukan langkah yang sesuai dengan kondisi mata anak.

Katarak kongenital dapat terjadi akibat faktor genetik maupun kondisi tertentu selama kehamilan. Dokter spesialis mata, Milzan Murtadha, menjelaskan bahwa faktor keturunan dan infeksi selama kehamilan merupakan dua hal yang dapat berkaitan dengan munculnya katarak pada anak.

"Untuk katarak pada anak itu biasanya bawaan dari lahir. Memang bisa dari faktor genetik atau faktor infeksi kehamilan pada ibu hamil," ujar Milzan dalam acara ‘Media Briefing JEC Eye Hospitals & Clinics Perihal: Dari Clear Vision Menuju Quality of Vision, Memahami Perkembangan Penanganan Katarak’ di Jakarta pada Rabu, 30 September 2026.

Salah satu faktor infeksi pada ibu hamil yang perlu diperhatikan adalah infeksi kelompok TORCH yang meliputi Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes. Meski demikian, menurutnya, angka kejadian katarak pada anak yang berkaitan dengan kondisi tersebut di Indonesia masih relatif rendah.

"Untuk infeksi pada ibu hamil itu biasanya infeksi TORCH, toxoplasma, rubella, cytomegalovirus, herpes. Jadi sudah ada sepaket. Sementara sih di Indonesia masih dua persen ke bawah, jadi masih agak jarang," jelasnya.

Selain infeksi, faktor keturunan juga dapat berperan. Namun, katarak pada anak tidak selalu ditemukan pada keluarga dengan riwayat kondisi serupa. Dalam beberapa kasus, katarak dapat muncul secara sporadis meskipun kedua orang tua tidak mengalaminya.

"Dikatakan dari orang tua ke anak itu 10 persen risiko, tapi ada juga yang orang tuanya normal dua-duanya, tiba-tiba anaknya katarak. Itu sporadis," tambah Milzan.

Operasi Katarak pada Anak Penanganan katarak pada anak tetap dilakukan melalui operasi untuk mengangkat lensa yang keruh. Menurut Milzan, teknik operasi yang digunakan dapat berupa fakoemulsifikasi (phacoemulsification), dengan penyesuaian berdasarkan kondisi dan ukuran mata anak.

"Tetap penanganannya adalah operasi katarak. Tergantung dari besar matanya biasanya. Cuma tetap kita ada pelayanan untuk operasi katarak pada anak. Biasanya sih tetap yang fakoemulsifikasi, tapi ada modifikasi karena untuk anak," tuturnya.

Berbeda dengan prosedur yang dapat dilakukan pada pasien dewasa menggunakan bius lokal berupa tetes mata, operasi katarak pada anak memerlukan pembiusan umum. Hal ini dilakukan agar tindakan dapat berlangsung dengan aman dan sesuai prosedur.

Setelah Operasi, Penglihatan Anak Tetap Perlu Dipantau Operasi mengangkat katarak dan pemasangan lensa tanam merupakan bagian dari penanganan kondisi tersebut. Namun, operasi bukan berarti kebutuhan perawatan mata anak selesai sepenuhnya.

Seiring bertambahnya usia, kondisi mata dan kebutuhan koreksi penglihatan anak dapat berubah. Karena itu, Milzan mengatakan, pemeriksaan berkala tetap diperlukan untuk memantau perkembangan penglihatannya.

"Kataraknya sudah dibersihkan, kita tanam lensa sudah, cuma sekali saja. Apakah nanti setelah operasi katarak dia bertahan sama lensa itu saja? Belum tentu,” Anak mungkin membutuhkan kacamata atau penyesuaian alat bantu penglihatan apabila mengalami perubahan ukuran refraksi, seperti minus atau silinder.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/bukan-cuma-lansia-bayi-baru-lahir-bisa-katarak-1cf6a700/.

Baca juga

Semua berita Lifestyle