Harga Minyak Melandai Usai G7 Sepakat Lepas Cadangan
Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia turun pada penutupan perdagangan Senin. Peningkatan ekspor minyak mentah dari Timur Tengah dan rencana negara-negara G7 melepas cadangan minyak mendorong kenaikan pasokan.
Kondisi tersebut mengimbangi kekhawatiran pasar terhadap potensi kerusakan lebih lanjut pada infrastruktur minyak di kawasan Teluk akibat perang AS-Israel dengan Iran yang masih berlangsung.
Mengutip CNBC, Selasa (6/10/2026), harga minyak Brent yang menjadi patokan harga dunia turun 1,9% dan ditutup di US$ 100,32 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun sekitar 1,8% menjadi US$ 89,43 per barel.
Harga Brent memangkas sebagian besar kenaikan pada pekan sebelumnya. Sementara WTI turun 1,6% setelah negara-negara G7 pada Jumat sepakat melepas 100 juta barel diesel dan minyak mentah dari cadangan darurat.
Keputusan itu diambil setelah tekanan dari Presiden AS Donald Trump. Negara-negara G7 juga berjanji tidak memberlakukan pembatasan ekspor energi.
Tambahan pasokan dari G7 akan meningkatkan ekspor minyak mentah Timur Tengah. Data pengiriman menunjukkan ekspor minyak kawasan tersebut bahkan sudah berada di atas level sebelum perang dalam empat dari tujuh hari pada pekan terakhir September.
Serangan Kelompok Houthi Kenaikan ekspor terjadi meski terdapat serangan terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz.Harga gasoil berjangka ICE juga naik lebih dari 2% menjadi US$ 1.390,25 per barel pada Senin.
“Keputusan G7 untuk menggunakan cadangan strategis mengurangi sebagian kekhawatiran pasokan dalam jangka pendek. Ada pula pandangan yang berkembang bahwa volume ekspor Arab Saudi mulai kembali menuju level sebelum perang, meskipun minyak tersebut masih dikirim dengan biaya lebih tinggi dan melalui rute yang kurang efisien,” kata Tim Waterer, kepala analis KCM Trade.
“Kombinasi tersebut cukup untuk menekan harga saat ini, meskipun risiko kerusakan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk belum hilang.” Kelompok Houthi mengklaim meluncurkan rudal balistik dan drone ke fasilitas Saudi Aramco di Riyadh dan wilayah Khurais, Arab Saudi. Serangan itu disebut sebagai respons atas 50 serangan udara dan rudal yang dilakukan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman dalam 12 jam sebelumnya.
Namun, Arab Saudi belum mengonfirmasi laporan tersebut.
Pada Minggu, pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dan diakui secara internasional menyatakan akan melancarkan operasi militer besar untuk merebut kembali seluruh wilayah yang dikuasai kelompok Houthi yang didukung Iran.
Aramco Pangkas Harga Di sisi lain, Aramco secara mengejutkan memangkas harga minyak mentah untuk pasar Asia pada November ke level terendah dalam enam tahun.
Analis ING dalam sebuah catatan mengatakan harga Brent masih bertahan di atas US$ 100 per barel karena ketegangan geopolitik yang terus berlangsung serta meningkatnya serangan terhadap kapal komersial di kawasan Teluk.
Sementara itu, OPEC+ menunda pembahasan yang akan menentukan kuota produksi minyak anggotanya untuk 2027.
Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/harga-minyak-melandai-usai-g7-sepakat-lepas-cadangan-deadc812/.
Baca juga
RUU Pelindungan Ketenagakerjaan Atur Dana Cadangan Pesangon hingga Larangan Tahan Ijazah
Liputan6.com, Jakarta - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Yassierli, menuturkan, Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pelindungan Ketenagakerjaan merupakan bagian penting dari upaya menghadirkan era baru hukum ketenagakerjaan.
Haji Isam Tambah Kepemilikan Saham Bayan, Manajemen Buka Suara
Haji Isam Tambah Kepemilikan Saham Bayan, Manajemen Buka Suara Jakarta, CNBC Indonesia - Aksi korporasi antar dua konglomerat, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) milik Low Tuck Kwong dengan PT Jhonlin Baratama milik Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam masih berlanjut.
Harga Minyak Dunia Mendidih ke US$101,5 Imbas Ancaman Badai AS
Harga minyak mentah dunia naik pada perdagangan Rabu (7/10) dipicu oleh potensi gangguan pasokan akibat badai yang mengancam fasilitas produksi kilang minyak di Amerika Serikat (AS).
Rupiah dan Dong Jadi Jagoan Asia, Menguat Saat Mata Uang Lain Tertekan
Rupiah & Dong Jadi Jagoan Asia, Menguat Saat Mata Uang Lain Tertekan Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan kembali mendominasi mata uang Asia pada perdagangan Rabu (7/10/2026).