Jangan Tunggu Sakit Gigi Baru Periksa, Ini Pesan Dokter
Liputan6.com, Jakarta - Memeriksakan gigi sebaiknya tidak menunggu sampai muncul rasa sakit. Pemeriksaan rutin diperlukan untuk mengetahui masalah pada gigi dan mulut sejak awal, termasuk kondisi yang mungkin belum menimbulkan keluhan.
"Pemeriksaan gigi sebaiknya dilakukan secara berkala, sekitar setiap enam bulan. Dengan pemeriksaan rutin, masalah seperti karang gigi dan gigi berlubang dapat diketahui sebelum berkembang menjadi lebih berat," kata drg Melissa Delania, SpPros dari Satu Dental ditemui beberapa waktu lalu.
Menurutnya, orang yang sudah puluhan tahun tidak memeriksakan gigi bisa datang dengan lebih dari satu masalah. Kondisi tersebut membuat perawatan perlu dilakukan secara bertahap sesuai tingkat keparahannya.
Ketika ditemukan beberapa masalah, dokter gigi akan menentukan prioritas perawatan dan menanganinya satu per satu. Artinya, pasien tidak selalu harus menyelesaikan seluruh masalah gigi dalam satu kali kunjungan.
"Dalam proses menyelesaikan akan datang berkali-kali karena tabungan 30 tahun enggak ke dokter gigi," katanya.
Sakit Gigi Hilang Sendiri, Infeksi Bisa Jadi Masih Ada Seseorang yang mengalami sakit gigi lalu hilang sendiri maka bukan berarti sudah sembih. Rasa sakit bisa terjadi karena saraf gigi yang sudah mati.
Namun, bukan berarti jaringan di sekitar gigi terbebas dari masalah. Justru, kondisi tersebut dapat menjadi bagian dari proses infeksi yang terus berkembang apabila tidak ditangani.
Dela menjelaskan, jaringan yang sudah mati di dalam tubuh dapat memicu reaksi peradangan dan infeksi di area tersebut. Ketika kondisi ini kembali dibiarkan, infeksi dapat semakin besar dan menimbulkan pembengkakan maupun demam.
Pada infeksi gigi yang berat, pembengkakan juga dapat menekan jaringan di sekitarnya. Mengingat area gigi dan rongga mulut berdekatan dengan jalur napas, maka bisa memengaruhi sampai ke situ. Infeksi yang berat juga dapat menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan infeksi pada bagian tubuh lain.
Maka dari itu, hilangnya rasa sakit tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan kondisi gigi.
Ketika saraf gigi masih hidup, kerusakan pada gigi dapat menimbulkan rasa sakit. Namun, ketika saraf tersebut sudah mati, keluhan nyeri justru dapat menghilang.
"Jadi waktu sarafnya masih ada, mulai rusak itu sakit dulu. Terus kemudian sempat enggak sakit dulu, nah biasa pasien sudah merasa sudah enak, padahal bukan, itu malah awal mulai lebih parah lagi," kata Dela.
Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/jangan-tunggu-sakit-gigi-baru-periksa-ini-pesan-dokter-f4f50432/.
Baca juga
Prabowo Salurkan Rp400 T Hasil Satgas PKH untuk Rumah Rakyat-Sekolah
Prabowo Salurkan Rp400 T Hasil Satgas PKH untuk Rumah Rakyat-Sekolah Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Prabowo Subianto kembali memastikan, dana hasil penertiban kawasan hutan dan lahan yang berhasil dilakukan oleh Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) untuk…
Dahlia Poland Ungkap Momen Kenalan dengan Rangga Azies yang Kini Jadi Kekasihnya
- Dahlia Poland berpacaran dengan Rangga Azies, bertemu tak sengaja di Bandung. - Hubungan pacaran mereka berjalan tiga bulan, setelah perkenalan lima bulan. - Dahlia kini lebih selektif dan berhati-hati dalam memulai hubungan baru.
Pagi Selalu Sibuk? Begini Cara Bikin Shower Routine Pria Lebih Praktis
Liputan6.com, Jakarta - Rutinitas pagi sering kali berpacu dengan waktu. Bangun tidur, mandi, sarapan, mengecek pekerjaan, lalu berangkat ke kantor atau kampus. Bagi pria dengan mobilitas tinggi, setiap menit sebelum memulai aktivitas bisa terasa berharga.
MK Tak Temukan Bukti Ijazah Setara SMA Gibran Rakabuming, Gugatan Tak Dapat Diterima
Mahkamah Konstitusi (MK) menyatakan tidak menemukan bukti meyakinkan yang menunjukkan Gibran Rakabuming Raka memiliki ijazah, sertifikat, atau diploma dari luar negeri yang dapat dijadikan dasar penyetaraan dengan pendidikan paling rendah tamat sekolah menengah atas (SMA) atau…