Lewati ke konten

Rabu, 7 Oktober 20262927 berita

Nekat Beli Bisnis Bangkrut, Imigran Wanita Ini Berharta Rp 73 TriliunAlarm Kematian El Nino di RI, Benarkah Belasan Ribu Terancam Tewas?Mediasi Audi Marissa dan Anthony Xie Resmi Gagal, Kuasa Hukum: Pintu Rujuk Masih TerbukaRUU Pelindungan Ketenagakerjaan Atur Dana Cadangan Pesangon hingga Larangan Tahan IjazahDulu Buka Jalan Cawapres, Almas Kini Minta DPR Proses Makzulkan GibranCristiano Ronaldo Ungkap Alasan Tinggalkan Timnas Portugal, Klaim Jorge Jesus Ingkar JanjiSegini Hadiah Timnas Indonesia Usai Kalahkan Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026Menko Sugino minta Menpora hitung kebutuhan tambahan bonus bagi atletMasalah Kualitas, As Roda Chery Omoda 5 Copot Terjadi di MalaysiaHaji Isam Tambah Kepemilikan Saham Bayan, Manajemen Buka Suara
Ekonomi

Nekat Beli Bisnis Bangkrut, Imigran Wanita Ini Berharta Rp 73 Triliun

Liputan6 Bisnis 3 menit baca 514 kata
Nekat Beli Bisnis Bangkrut, Imigran Wanita Ini Berharta Rp 73 Triliun — gambar dari Liputan6 Bisnis
Gambar dari Liputan6 Bisnis. Ringkasan oleh Zona News.

Liputan6.com, Jakarta - Keteguhan mental dan kerendahan hati Thai Lee menjadi bukti nyata bahwa seorang imigran wanita pun bisa menaklukkan kerasnya bisnis teknologi Amerika Serikat. Siapa sangka, berawal dari keberanian nekat mengambil alih distributor software kecil yang nyaris bangkrut, ia kini menjelma sebagai salah satu pebisnis wanita paling berpengaruh di dunia dengan kekayaan mencapai US$ 4,1 miliar atau sekitar Rp 73 triliun (kurs Rp 17.883 per US$).

Dikutip dari South China Morning Post, Rabu (7/10/2026), Thai Lee lahir di Bangkok, Thailand, dan menghabiskan masa kecilnya di Korea Selatan. Sang ayah, Daniel Lee Kie-hong, merupakan seorang ekonom terkemuka yang sangat menekankan pentingnya pendidikan. Saat berusia 15 tahun, Lee bersama saudarinya hijrah ke AS untuk melanjutkan sekolah. Ia kemudian berkuliah di Amherst College dan meraih gelar sarjana ganda di bidang biologi dan ekonomi.

Uniknya, Lee mengaku memilih kedua jurusan tersebut demi menghindari kelas Bahasa Inggris karena belum percaya diri dengan kemampuan berbahasanya. Tak berhenti di situ, Lee melangkah lebih jauh hingga mengukir sejarah sebagai wanita Korea pertama yang lulus dari Harvard Business School.

Mengutip AHN Media Group, ketangguhan mental Lee terbentuk dari ajaran Buddha yang dianutnya sejak kecil. Ia memegang teguh prinsip bahwa penderitaan dan ketidakpastian adalah bagian alami dari kehidupan yang harus dihadapi.

Pengalaman hidup yang berpindah-pindah negara melatih Lee untuk tetap tenang di bawah tekanan, tidak mudah menyerah, serta selalu mengedepankan asas manfaat di atas ego pribadi. Setelah sempat menimba pengalaman di perusahaan raksasa seperti Procter & Gamble dan American Express, Lee mantap memilih jalan sebagai pengusaha.

Momen krusial dalam kariernya tiba pada 1989. Berbekal seluruh tabungan pribadi dan modal bersama suaminya saat itu, Lee nekat membeli distributor software kecil di New Jersey yang sedang berada di ambang kebangkrutan. Bisnis yang semula terabaikan itu diubah namanya menjadi Software House International (kini dikenal sebagai SHI International).

Di tangan Lee, perusahaan solusi teknologi informasi (TI) tersebut melesat drastis. SHI kini melayani kebutuhan komputasi, infrastruktur cloud, hingga pusat data bagi belasan ribu klien korporat kelas dunia seperti Boeing dan AT&T.

Gaya Kepemimpinan Beretika dan Kerendahan Hati Keberhasilan luar biasa tidak membuat Lee jemawa. Sebagai salah satu wanita kaya self-made teratas di AS, Lee dikenal menerapkan prinsip Right Livelihood atau mata pencaharian yang benar. Ia menolak berbagai fasilitas istimewa eksekutif, memarkir mobilnya di area umum bersama karyawan, mengelola agendanya sendiri tanpa asisten, dan menjaga hubungan dekat dengan stafnya. Bagi Lee, ukuran keberhasilan bisnis terletak pada dampak positif yang dirasakan oleh lebih dari 7.000 karyawannya.

Lee juga sangat disiplin merencanakan hidup dengan menetapkan target per dekade usia: fokus pada pendidikan di usia 20-an, membangun fondasi bisnis di usia 30-an, dan membina keluarga di usia 40-an. Di samping kesibukannya memimpin imperium teknologi, Lee aktif mendonasikan waktu dan kekayaannya untuk kegiatan amal. khususnya pendidikan dan penelitian kanker—serta menjabat sebagai wali amanat seumur hidup (life trustee) di alma maternya, Amherst College.

Rekam jejak Thai Lee membuktikan bahwa kesuksesan bernilai miliaran dolar tidak harus dicapai dengan gaya kepemimpinan yang agresif atau flamboyan. Kejelian melihat peluang pada bisnis terbuang, kedisiplinan beretika, serta kerendahan hati yang konsisten menjadi kunci sukses sang imigran mengukir sejarah di panggung global.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/nekat-beli-bisnis-bangkrut-imigran-wanita-ini-berharta-rp-73-triliun-6a116366/.

Baca juga

Haji Isam Tambah Kepemilikan Saham Bayan, Manajemen Buka Suara

Haji Isam Tambah Kepemilikan Saham Bayan, Manajemen Buka Suara Jakarta, CNBC Indonesia - Aksi korporasi antar dua konglomerat, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) milik Low Tuck Kwong dengan PT Jhonlin Baratama milik Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam masih berlanjut.

CNBC Indonesia

Semua berita Ekonomi