Lewati ke konten

Rabu, 7 Oktober 20262927 berita

Petani dan Nelayan Bakal Ikut Menikmati Pembiayaan KarbonAlarm Kematian El Nino di RI, Benarkah Belasan Ribu Terancam Tewas?Mediasi Audi Marissa dan Anthony Xie Resmi Gagal, Kuasa Hukum: Pintu Rujuk Masih TerbukaRUU Pelindungan Ketenagakerjaan Atur Dana Cadangan Pesangon hingga Larangan Tahan IjazahDulu Buka Jalan Cawapres, Almas Kini Minta DPR Proses Makzulkan GibranCristiano Ronaldo Ungkap Alasan Tinggalkan Timnas Portugal, Klaim Jorge Jesus Ingkar JanjiSegini Hadiah Timnas Indonesia Usai Kalahkan Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026Menko Sugino minta Menpora hitung kebutuhan tambahan bonus bagi atletMasalah Kualitas, As Roda Chery Omoda 5 Copot Terjadi di MalaysiaHaji Isam Tambah Kepemilikan Saham Bayan, Manajemen Buka Suara
Ekonomi

Petani dan Nelayan Bakal Ikut Menikmati Pembiayaan Karbon

Liputan6 News 2 menit baca 305 kata
Petani dan Nelayan Bakal Ikut Menikmati Pembiayaan Karbon — gambar dari Liputan6 News
Gambar dari Liputan6 News. Ringkasan oleh Zona News.

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah mendorong pembiayaan karbon agar tidak hanya menjadi instrumen perdagangan emisi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang terlibat langsung dalam menjaga dan memulihkan lingkungan.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan pembiayaan karbon ke depan untuk menjangkau petani, nelayan, dan masyarakat pesisir yang terlibat dalam upaya pengurangan emisi dan perlindungan lingkungan.

Nilai ekonomi karbon dapat menjadi instrumen untuk memberikan nilai ekonomi terhadap kegiatan menjaga dan memulihkan lingkungan.

“Pertanian dan karbon biru berada dalam gelombang berikutnya, artinya pembiayaan karbon akan menjangkau petani, nelayan, masyarakat pesisir, bukan hanya korporasi besar,” kata Zulkifli, dilansir Antara, Rabu (7/10/2026).

Menurut dia, skema tersebut dapat menjadi salah satu cara agar masyarakat yang menjalankan kegiatan konservasi turut memperoleh manfaat dari upaya perlindungan lingkungan.

Zulkifli yang merupakan Ketua Komite Pengarah Nilai Ekonomi Karbon (NEK) mengatakan pemerintah terus membangun ekosistem nilai ekonomi karbon melalui perdagangan karbon, pajak karbon, dan pembayaran berbasis hasil (result-based payment).

Pengembangan pasar karbon tersebut telah memiliki landasan melalui Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Nilai Ekonomi Karbon. Pemerintah juga telah menerbitkan enam aturan turunan dan mengoperasikan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK).

Zulkifli menyebut potensi pasar karbon Indonesia dapat mencapai US$ 7,7 miliar per tahun.

Saat ini, pemerintah juga telah menerbitkan unit karbon untuk empat proyek sektor kehutanan dengan potensi pengurangan emisi sekitar 30 juta ton CO2 ekuivalen.

Keempat proyek tersebut diperkirakan memiliki nilai transaksi sekitar Rp 5 triliun dan berpotensi menghasilkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sekitar Rp 500 miliar.

Pembiayaan Karbon untuk Masyarakat Zulkifli menegaskan pengembangan pasar karbon tidak boleh hanya memberikan manfaat kepada korporasi besar. Menurut dia, pembiayaan juga harus menjangkau masyarakat yang melakukan kegiatan konservasi dan pengurangan emisi di tingkat lapangan.

Dengan skema tersebut, kegiatan pengurangan emisi dan perlindungan lingkungan yang dilakukan masyarakat diharapkan dapat memperoleh manfaat ekonomi dari pengembangan nilai ekonomi karbon.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/petani-dan-nelayan-bakal-ikut-menikmati-pembiayaan-karbon-d3f4a2dc/.

Baca juga

Haji Isam Tambah Kepemilikan Saham Bayan, Manajemen Buka Suara

Haji Isam Tambah Kepemilikan Saham Bayan, Manajemen Buka Suara Jakarta, CNBC Indonesia - Aksi korporasi antar dua konglomerat, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) milik Low Tuck Kwong dengan PT Jhonlin Baratama milik Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam masih berlanjut.

CNBC Indonesia

Semua berita Ekonomi