Gandeng Dosen Heidelberg University Jerman, Puluhan Bidan di Solo Dilatih Deteksi Dini Kanker
Gandeng Dosen Heidelberg University Jerman, Puluhan Bidan di Solo Dilatih Deteksi Dini Kanker Sebanyak 50 bidan di Surakarta mengikuti pelatihan penguatan kapasitas deteksi dini kanker payudara dan serviks.
- Sebanyak 50 bidan di Surakarta mengikuti pelatihan penguatan kapasitas deteksi dini kanker payudara dan serviks.
- Pelatihan difokuskan pada peningkatan komunikasi terapeutik, edukasi nutrisi, skrining kesehatan, serta pendampingan rujukan bagi perempuan.
- Hasil survei awal menunjukkan 90 hingga 95 persen bidan membutuhkan penyegaran materi deteksi dini kanker.
TRIBUNNEWS.COM - Sebanyak 50 bidan perwakilan dari 17 puskesmas, Bidan Delima, dan rumah sakit se-Kota Surakarta, Jawa Tengah mengikuti pelatihan penguatan kapasitas deteksi dini kanker serta edukasi nutrisi perempuan pada Jumat (2/10/2026).
Kegiatan pelatihan dan workshop ini diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) bekerja sama dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Kota Surakarta.
Program bertajuk Skrining dan Edukasi Nutrisi untuk Deteksi Dini Kanker pada Perempuan melalui Penguatan Kompetensi Bidan (SRIKANDI) ini dirancang untuk membekali bidan dalam komunikasi kesehatan, edukasi gizi, skrining kanker serviks dan payudara, hingga pendampingan rujukan di tingkat pelayanan dasar.
Pelaksanaan program ini didasari oleh hasil survei dan Focus Group Discussion (FGD) pra-kegiatan terhadap 20 bidan.
Riset tersebut mencatat 95 persen peserta memiliki sikap sangat positif dan 90 persen berkompetensi baik, namun 90 hingga 95 persen di antaranya mengonfirmasi tingginya kebutuhan akan pelatihan penyegaran.
Materi workshop mencakup epidemiologi kanker, mitos dan fakta gizi, deteksi dini lesi prakanker, hingga teknik komunikasi terapeutik bagi pasien.
Ketua Tim Pengabdian Internasional Mandatory (PIM) UNS, dr. Vitri Widyaningsih, M.S., Ph.D., menegaskan pentingnya peran bidan dalam mendekatkan informasi kesehatan kepada masyarakat.
“Bidan memiliki posisi yang sangat strategis karena berada dekat dengan perempuan dan masyarakat. Melalui SRIKANDI, kami ingin memperkuat kemampuan bidan bukan hanya dalam aspek skrining," ungkapnya dalam keterangan, Rabu (7/10/2026).
"Tetapi juga komunikasi, edukasi nutrisi, dan pendampingan, sehingga perempuan mendapatkan informasi yang tepat dan memiliki keberanian untuk melakukan deteksi dini,” ujarnya.
materi tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi dapat diterjemahkan menjadi komunikasi dan tindakan yang aplikatif dalam pelayanan,” ujar Melani.
Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/gandeng-dosen-heidelberg-university-jerman-puluhan-bidan-di-solo-6f1a37b5/.
Baca juga
Dari Tambak ke Industri, Garam Bima Mengejar Nilai Tambah
Bima (ANTARA) - Pada musim panen, hamparan tambak garam di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, berubah menjadi bentangan putih yang menyilaukan mata. Kristal-kristal garam dikumpulkan, ditumpuk, lalu menunggu pembeli datang mengambilnya.
Faktor yang bisa mengganggu pendengaran, selain usia dan suara keras
Jakarta (ANTARA) - Neurorolog di The Ohio State University Wexner Medical Center, Nick Andresen membagikan sejumlah faktor yang bisa mengganggu pendengaran selain disebabkan usia maupun paparan suara keras.
Jaksa Bongkar 4 Perkara dalam Dakwaan Febrie, Kantor Hukum Diduga Jadi Alat TPPU Rp 346 Miliar
Kasus Korupsi di Kejaksaan Agung Jaksa Bongkar 4 Perkara dalam Dakwaan Febrie, Kantor Hukum Diduga Jadi Alat TPPU Rp 346 Miliar Jaksa mengungkap empat perkara yang berkaitan dengan penerimaan uang Febrie Adriansyah dalam perkara pemerasan dan Tindak Pidana Pencucian Uang.
Momen Febrie Salami Jaksa Usai Didakwa Pemerasan hingga TPPU Rp350 M
Eks Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus, Febrie Adriansyah saling menyapa dan bersalaman dengan jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejaksaan Agung (Kejagung).