Luhut: Bisnis Rumput Laut RI Bukan Kaleng-Kaleng
Liputan6.com, Jakarta - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, menegaskan bahwa peluang pengembangan rumput laut di Indonesia bukan sekadar wacana. Indonesia tercatat memiliki potensi lahan budi daya hingga 3 juta hektare untuk komoditas unggulan tersebut.
Luhut menyampaikan, pemerintah telah membangun pusat penelitian rumput laut di Buleleng dan Lombok untuk mengolah potensi alam tersebut menjadi kekuatan ekonomi nyata.
"Kita juga berbicara mengenai rumput laut. Indonesia sangat maju di bidang ini. Kita memiliki sekitar 3 juta hektare wilayah yang dapat digunakan untuk membudidayakan rumput laut. Kita memiliki pusat penelitian di Buleleng dan Lombok. Ini bukan lagi sekadar kaleng-kaleng, ini sesuatu yang nyata," ujar Luhut dalam ajang Indonesia International Sustainability Forum (ISF) di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Luhut berseloroh menggunakan frasa 'kaleng-kaleng' untuk menegaskan betapa besarnya kekayaan hayati Indonesia yang belum digarap maksimal. Menurutnya, potensi besar ini membutuhkan dukungan riset, teknologi, hingga investasi berkelanjutan.
"Saya menggunakan istilah ‘kaleng-kaleng’ ini untuk membuat Anda tertawa, karena negara ini adalah negara yang luar biasa," selorohnya.
Dari Kemenyan Hingga Tanaman Herbal Selain rumput laut, Luhut menyoroti potensi kemenyan sebagai komoditas hayati bernilai tinggi. Indonesia saat ini menguasai sekitar 60% pasokan kemenyan dunia dengan area hutan mencapai 30.000 hektare di kawasan Danau Toba.
Ia menilai, kemenyan dan ribuan jenis tanaman hayati lainnya bisa diarahkan menjadi produk farmasi bernilai tambah tinggi melalui riset anak muda Indonesia.
Indonesia juga mengoperasikan pusat penelitian herbal di Sumatra Utara yang mengoleksi 396 spesies herbal dan lebih dari 2.000 jenis tanaman terverifikasi. Fasilitas canggih ini bahkan ditopang teknologi genome sequencing dengan kapasitas komputasi hingga 400 petaflops.
"Kita memiliki begitu banyak orang pintar di negara ini. Persoalannya adalah bagaimana kita menyatukan mereka untuk memecahkan masalah," ungkap Luhut.
Dorong Kecerdasan Buatan dan Investasi Guna mempercepat riset obat berbasis bahan alam, Luhut mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk menganalisis molekul tanaman. Perpaduan antara sumber daya alam, talenta lokal, dan teknologi canggih diyakini bakal melahirkan peluang investasi baru.
Di akhir pemaparannya, Luhut mengajak para investor global untuk memperkuat ekosistem industri nasional melalui inovasi bersama, mulai dari ekosistem nikel, baterai, kendaraan listrik, pertanian, bioteknologi, hingga rumput laut.
Ia menegaskan, Indonesia harus bertransformasi dari sekadar penyedia bahan mentah menjadi negara pembuat produk bernilai tambah demi dampak ekonomi yang lebih luas.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/luhut-bisnis-rumput-laut-ri-bukan-kaleng-kaleng-5c5a62dc/.
Baca juga
Masih Catat Transaksi Manual? Saatnya Kenalan dengan Accurate Biar Laporan Rapi
Mencatat transaksi dan menyusun laporan secara manual memang terasa aman di awal, sampai jumlah transaksi bertambah dan angka mulai sulit dilacak.
Masih Hitung Manual? 7 Skill Excel Ini Bikin Laporan Keuangan Lebih Cepat
Menghitung ulang angka karena satu sel salah rumus itu melelahkan, apalagi kalau laporan harus selesai hari ini.
Badan Pangan dan Pertanian PBB Sebut Angka Kelaparan di Indonesia Turun Signifikan di Tingkat Global
Badan Pangan dan Pertanian PBB Sebut Angka Kelaparan di Indonesia Turun Signifikan di Tingkat Global Angka kelaparan Indonesia turun hingga 6,3 persen. FAO menyebutnya signifikan, tetapi tantangan makanan sehat masih menanti.
Hizbullah Terima Rp 3,3 Triliun dari Iran untuk Bantu Warga Lebanon Terdampak Perang dengan Israel
Konflik Iran Vs Israel Hizbullah Terima Rp 3,3 Triliun dari Iran untuk Bantu Warga Lebanon Terdampak Perang dengan Israel Besarnya dana menjadi sorotan karena Iran sendiri sedang menghadapi tekanan ekonomi yang semakin kuat dari Amerika Serikat (AS).